Responsibility


Lagi lagi perasaan ini muncul lagi. Perasaan di mana adanya ketidak nyamanan dalam suatu hubungan. Hubungan sebuah kedekatan kebersamaan dan kenyamanan. Jangan pikir bahwa hubungan ini adalah hubungan batin antar dua sejoli yang berbeda gender melainkan hubungan hati antar sesama makhluk Tuhan yang dirasakan secara bersama-sama baik sejenis maupun bebeda jenis gender. Hubungan biasa disebut dengan pertemanan atau persahabatan.

Pertemanan atau persahabatan? Entahlah. Memang sulit membedakan teman dan sahabat. Disaat kita merasa cocok dan merasa saling memiliki dan membutuhkan mungkin dapat kita sebut persahabatan. namun apabila kita bersama-sama tertawa bersendau gurau tetapi sesungguhnya kita belum menemukan diri kita yang sesungguhnya dalam lingkungan tersebut, apakah masih bisa dikatakan sahabat? Atau hanyalah teman? Lalu apakah penger tian dari teman itu sendiri? Apakah teman hanya sebatas saling mengenal, saling tahu, dan saling melihat? Apakah cukup segitu saja? Jika memang benar berarti saya harus mengubah status para sahabat saya menjadi teman biasa? Karena belum tentu para sahabat saya mengenal saya sangat dalam dan selalu mengerti saya karena mreka juga perlu dimengerti dan belum tentu juga saya mengenal diri mereka secara keseluruhan karena setiap orang memiliki sisi yang sepantasnya tak perlu ditunjukkan pada orang – orang tertentu. Jika bukan sahabat dan teman lalu bagaimanakah kita harus menyebutnya? Musuh? Tidak mungkinkan? Seperti yang kita ketahui musuh adalah seseorang yang telah mengganggu hidup kita lebih dari kewajaran bahkan dapat mengancam hidup kita. Lagi pula perlu diingat dalam kamus hidup saya tidak pernah ada musuh di dalam hidup saya. Jika ada sesuatu yg memang telah mengganggu hidup saya itu hanyalah sebagian kecil sekali dari cobaan kehidupan.

Sahabat teman musuh semuanya pengertian abstrak dari setiap individu yang bisa merasakan. Apalah namanya, teman atau sahabat. Ketika kita memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang dengan tampang yang tak akrab dalam memori kita mungkin kita akan berfikir ‘mereka bukan siapa-siapa’. Tetapi akan berbeda rasanya apabila kita harus bersama orang – orang asing tersebut dengan waktu lama bahkan bertahun – tahun. Pasti kita akan berfikir apakah kita dapat bertahan dengan mereka? Apakah mereka adalah pilihan yang tepat? Dan bagaimana caranya agar dapat merasa cocok dengan mereka? Bahkan mungkin saat itu juga kita akan mulai mencari-cari seseorang/ beberapa orang yang dinilai cocok dan pantas untuk berteman dengan kita. Manakah yang nantinya akan menjadi sahabat sejawat kita? Namun pernahkah terfikir di otak kita apa yang terjadi apabila kita sungguh-sungguh tidak dapat survive dalam lingkungan tersebut? Atau mungkin kita dapat bertahan asalkan dengan pemenuhan syarat untuk menjadi seseorang yang sesungguhnya bukan diri kita sendiri atau dengan kata lain kita harus membohongi diri sendiri untuk sebuah situasi yang kita hadapi sekarang dan seterusnya? Jikapun bisa hanya bertahan beberapa saat karena yang terpenting dalam kehidupan adalah bagaimana kita mengontrol lingkungan kita dengan menjadi diri sendiri. semua bergantung pada responsi lingkungan terhadap diri kita yang berasal dari respon kita sendiri. jika respon yang muncul adalah sebuah keadaan yang menyenangkan mungkin kita akan menanggapi dengan menyenangkan pula. Namun berbeda jadinya apabila respon menyengkan yang kita berikan ditanggapi oleh respon yang kurang meyakinkan kesenangan hati kita. Kita akan merasa bahwa mereka belum memahami kita atau kita belum memahami mereka atau dapat dikatakan belum ada kecocokan yang mendasar dari hati masing-masing. Apabila kita belum menemukan sesuatu yang disebut ‘feel’ dalam suatu lingkungan baru mungkin kita akan memutar otak kita untuk kembali ke masa lampau. Masa di mana kita dapat merasakan sebuah keadaan yang nyaman hangat dan penuh canda tawa yang menyegarkan dan merindukan. Mungkin itulah yang sedang saya alami saat ini. Berkali-kali pikiran saya terbawa pada sebuah memori di mana saya merasa memiliki satu sama lain. Masa di mana saya dapat menjadi diri saya apa adanya dan tidak ada yang dibuat-buat. Masih teringat jelas bagaimana saya tersenyum untuk merespon lingkungan saya dan bagaimana lingkungan saya juga membalas respon saya dengan beribu senyuman. Bagi saya mereka bukanlah teman saya tetapi mereka adalah sahabat dekat saya. Meski saya tidak mengenal lebih dalam kehidupan pribadi mereka tetapi saya mengenal bagaimana hidup mereka begitupun juga sebaliknya bahkan saya merasa mereka mengenal diri saya lebih dari diri saya melihat diri saya secara kasat mata, karena mereka selalu dapat membuat saya merasa senang, merasa tenang, dan yang terpenting merasa memiliki. Saya selalu dapat tersenyum lebar tertawa lantang bahkan menangis sedu di hadapan mereka tanpa rasa canggung. Mereka adalah kunci senyuman saya. Ketika saya harus menitihkan berliter-liter air dari mata saya di keadaan luar, tiba-tiba air tersebut terusap dengan sendirinya di saat saya berada si antara mereka. Bahkan literan air yang mengalir tidak ada artinya karena tergantikan oleh berjuta – juta kilo senyum bintang. Bersama merekalah saya merasa diperhatikan dan dimiliki. Bersama mereka pula saya merasa pakaian putih abu-abu saya tidak lagi berwarna abu-abu tetapi sudah berubah warna menjadi warna-warni dengan coretan-coretan yang mengesankan. Coretan-coretan kenangan-kenangan indah, kenangan manis, dan kenangan kebersamaan. Saya dan mereka pula bersama-sama berjuang menuju sebuah awal dari kesuksesan dan awal dari dimulainya titik di mana saya menyebut memori bersamanya adalah ‘kenangan’. Dan kami yakin kami akan menambah memori tersebut dengan kembali mengenang bersama-sama saat kami bertemu nantinya dengan kedudukan kami masing-masing. Kami sangat menantikan saat-saat itu. GO TO ONE!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: