Inspirasi Pinggiran Kota

1g

Hari gelap menemani perjalananku pulang menuju rumah seusai pengajaran di Desa pinggir Kota Besar Semarang. Kukendarai perlahan kendaraan usangku Menikmati indahnya lampu kota. Melihat-lihat hiruk pikuk kota besar di malam hari pukul sembilan. hmm tiba-tiba saja ada yang mengganjal dari seret

roda motorku. Entahlah, aku tak peduli. Kulihat para penjual Lamongan yang kebingungan melayani ramainya pembeli dari atas motor, mobil yang mulai menurunkan sayurannya di pasar hingga motor berlalu lalang menyebrang di hadapanku.

Tujuh menit berlalu. Keseimbangan motor semakin tak terkendali. Curiga dengan ban motor yang kempes, aku coba mencari bengkel motor sekitar. Namun sepertinya mustahil di malam gelap seperti ini. Tapi… Ah, tetap saja ku lajukan motorku. Dengan kecepatan sangat minimal aku lirik-lirik sekiar. Sesusai dugaanku memang benar aku tak menemukan tambal ban di pinggir jalan, duh Kang!

Dengan perut lapar karena belum juga makan berat sejak berbuka, ku berniat mencari makan pinggiran. Tara! Wangi khas nasi goreng tercium dari pinggir jalan. Ku dekati warungnya, tak disangka tepat di samping warung nasi goreng terdapat Akang tambal ban yang masih setia menunggu pelanggan #terharu. Entah bagaimana laparku hilang seketika dan aku lebih memilih Akang tambal ban ketimbang Akang nasi goreng. Maaf ya Kang!

Tik tok .. menit berlalu. menunggu peroses penyembuhan motorku, ku berbincang dengan Akang tambal ban. Awalnya pembicaraan kami santai hanya mengenai penyebab ban bocor. Siapa sangka pembicaraan kami merambat ke masalah kehidupan.

Akang yang berusia tak lebih dari 45 tahun itu memiliki profesi kesehariannya hanya sebagai penambal ban. Tentu akang satu ini pasti sudah berkeluarga dan memiliki anak. anak pertamanya berusia 12 tahun dan bersekolah di salah satu sekolah negeri di Semarang. sedangkan anak keduanya yang masih duduk di sekolah dasar mengenyam pendidikan di sekolah berbasis Islam, tidak jauh dari rumahnya.

Saat ditanya apa alasannya memilih pekerjaan sebagai penambal ban ia hanya menjelaskan bahwa ini amanat Ayahnya yang terlebih dulu memiliki profesi seperti ini. Seketika saya berfikir, kalau biasanya warisan itu berupa tanah dan perhiasan, bagi bapak 2 anak ini memiliki warisan berupa alat tambal ban dan alat isi angin ban motor. Sedangkan saat ditanya apakah penghasilan sebagai tambal ban dapat mencukupi kebutuhan keluarga ia hanya menjawab bahwa rezeki itu tidak akan tertukar. Subhanallah, mendengar jawaban hati akang ini hati saya tergetar. Dalam kesederhanaannya ia sangat mensyukuri keadaannya sekarang.

1j

Akang yang sudah 25 tahun bekerja sebagai penambal ban dan berpenghasilan lima puluh sampai seratus ribu per hari ini mengaku bahwa pendidikan agama untuk anak sangatlah penting. Hal tersebutlah yang menjadi alasan ia memasukkan anak-anaknya ke sekolah islam tingkat sekolah dasar. Meski kita tahu bersekolah swasta terlebih berbasis islam tentu akan lebih mahal dibanding sekolah negeri milik pemerintah. Dengan biaya yang tak sedikit untuk sekolah anaknya, ia tetap akan berusaha menyekolahkan kedua buah hatinya hingga perguruan tinggi. Akang satu ini juga menegaskan bahwa pentingnya sekolah untuk masa depan terlebih mulai masuknya pekerja asing ke Indonesia maka persaingan semakin ketat. Mak! Seketika saya seperti ditampar. Meski pekerjaannya penambal ban namun pemikiran akang ini sungguh maju.

Andai saja seluruh masyarakat Indonesia terutama para orang tua memiliki pemikiran yang serupa dengan bapak ini pasti tidak ada lagi anak-anak mengemis di jalanan, tidak ada pengamen, pencuri, penjudi, pemabok, atau pengangguran lagi. Anak-anak akan berkembang lebih baik dengan pola pemikiran sesuai era globalisasi dengan tetap memegang teguh akhlak dan ajaran agama yang dimilikinya. Serta membawa Indonesia menjadi negara yang leih baik bahkan mengalahkan paman Sam sekalipun.

Akhirnya pun perjalanan saya malam ini memberi inspirasi bagi saya, dan semoga juga untuk pembaca sekalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: