Tulus Pengantar Ketegaran: Sebuah Kisah Nyata Perjalanan Hidup

Kata-kata sendunya sekilas memang sulit dipercaya. Dalam waktu yang amat singkat dia berani menyodorkan permintaan sejumlah uang. Tentu kita belum pernah saling mengenal sebelumnya.

Tubuh anak berusia sekitar 12 tahun itu tak jauh beda dengan anak umur 8 tahun. Namun kemungilannya tak menyurutkan kedewasaannya. Kamis sore (2 Mei 13), Saat itu saya baru saja mematikan mesin kendaraan saya dengan maksud menunggu teman saya di depan kantor Indosat Semarang. Hendak membaca sms dari teman yang juga salah satu pegawai di Indosat, tiba – tiba seorang anak kecil dengan tubuh mungilnya menghampiri saya. Tanpa basa-basi ia langsung meminta sejumlah uang kepada saya. Dengan reaksi waspada setengah bingung saya menanyakan maksud dan tujuannya yang sebenarnya. Tanpa segan pada saya yang notabene orang yang belum ia kenal, ia menceritakan kondisinya saat ini. Rasa curiga itupun muncul namun tertutupi oleh rasa keprihatinan.

kakak-sayang-adik

Irwan, siswa kelas 6 sebuah sekolah dasar di Ungaran bercerita dengan genangan air mata yang nampak di wajahnya. Dan saat itulah saya tahu bahwa ia sedang membutuhkan ongkos untuk pulang ke rumahnya di daerah Karangjati II Ungaran. Ia mengaku kehabisan ongkos untuk naik angkot karena ia gagal menemui kakaknya yang biasa menjajakan makanan di warung emperan kawasan simpang lima.

Sore itu Irwan berniat untuk menemui kakaknya di warung tempat ia biasa jualan. Niat tersebut tak lain karena perintah dari sang Ibu. Tujuan utama ia mencari kakaknya adalah meminta sejumlah uang untuk membawa ibunya berobat ke dokter/ rumah sakit. Sebelumnya ia menceritakan bahwa ibunya sedang sakit dan sempat muntah darah. Karena keterbatasan biaya akhirnya sang ibu hanya dirawat di rumah. Namun, saat itu, Irwan, anak kedua dari tiga bersaudara ini kurang beruntung, warung tempat kakaknya biasa bekerja telah tutup. Dengan perasaan hampir putus asa ia juga menyampaikan pada saya untuk “siap menukarkan nyawanya dengan nyawa Ibunya jika Tuhan memang berkehendak”. Ia juga menawarkan TV di rumahnya agar saya membelinya. Mendengar perkataan itu saya tercengang. Seorang anak laki2 yang masih belia harus memikul beban hidup seperti itu. Selain harus mengurus adiknya yang duduk di bangku TK sendirian, ia juga harus fokus pada Ujian Nasional yang tinggal beberapa hari lagi. Sayapun mengajaknya duduk bersama di trotoar kecil di pinggir jalan.

Teman saya yang kala itu sudah keluar dari kantorpun ikut berusaha menghibur Irwan dengan mengarahkan ia mencurahkan isi hatinya. Ny. N, Ibu Irwan, memang sudah beberapa hari ini kondidinya memburuk dan membutuhkan biaya untuk berobat. Karena terhalang perekonomian keluarga, ibunya mengurungkan niatnya. Saya yang tak sengaja menemukan sekardus kecil kue virgin di dalam tas dan memberikannya kepada Irwan. Dengan ekspresi yang lebih tenang dan mendapat sejumlah uang untuk ongkos pulang, ia mengucapkan ucapan terimakasih. Tutur katanya yang menggunakan bahasa krama alus menunjukkan kesopanan dan ketulusannya. Saat mengetahui sebuah Daihatsu berhenti di depan kami, ia bergegas pulang dengan maksud agar tidak terlalu larut malam.

hidup

Pengalaman singkat saya ini bisa menjadi sebuah pelajaran hidup terutama bagi saya. bahwa sesungguhnya belum tentu beban hidup yang kita pikul saat ini itu berat. Dalam materi kehidupan menunjukkan bahwa masih banyak orang-orang di luar sana yang memiliki beban hidup yang lebih berat tak terkecuali dengan usia yang jauh lebih muda. Allah memilih perjalanan hidup bagi masing-masing hambaNya. Pasti akan ada jalan terbaik dalam setiap perjalanan hidup. Meski terkadang pahit, tapi kekuasaan tertinggi hanyalah padaNya, namun bukan berarti manusia sebagai ciptaanNya hanya pasrah dan berdiam diri. Tekad, usaha keras, keikhlasan dan ketulusanlah yang akan menjaga kita dalam ketegaran setiap perjalanan hidup.  *EY

n-ketegaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: