Hi Boy!

“Cinta Tak Berujung”

          Hai boy, gimana kabarmu hari ini? Maaf kalau aku lancang menanyakan ini. Berulang kali aku elakkan perasaanku berulang kali aku sadar aku memang tidak bisa bohongi hatiku. aku ingin menyerah boy tapi saat keinginan itu aku turuti maka hatiku juga ikut berbicara. Ingin aku berlogika saja. Jika keputusanmu saat ini untuk pergi dan menjauh atau bahkan mencari yang lain, aku sangat menghargai. Dan seharusnya akupun mengikuti langkahmu untuk tidak lagi memikirkanmu sebagai wujudku menghargaimu.

          Maaf, maafkan aku boy. Aku memang tidak pantas, aku memang tak layak untuk mendapatkanmu dan hatimu. Aku yang cuma wanita biasa, tidak pintar juga tidak indah. Kamu dengan hatimu yang indah, keikhlasanmu yang luar biasa sangat layak untuk mendapatkan yang lebih indah dan menarik untuk dipetik. Kamu yang hebat bisa membuat kehebatan-kehebatan sekitarmu, kamu yang tulus bisa melakukan hal-hal diluar akal sehat, kamu yang kuat bisa memikul kehidupanmu dan orang lain. Subhanallah, aku sangat beruntung telah mengenalmu beberapa tahun ini. Namun kalau aku boleh memilih, aku lebih memilih tidak mengenalmu daripada harus melupakanmu.

Terimakasih telah mau mengenalku selama ini. Terimakasihku juga untuk penerimaanmu kepada kekurangan-kekuranganku, perjuangan dan pengorbananmu, tenaga dan pikiranmu untukku. Tak mengucap bukan berarti tak merasa. Diamku untuk merasakan yang semestinya aku rasa dan pahami. Aku menunggu untukmu. Aku siap untuk tidak bersama yang lain tapi aku tak siap untuk kehilanganmu. Mungkin ini juga kesalahanku dan membuatku sulit menerima hati lain.

Mungkin aku terlalu bodoh atas hatiku sendiri. sempat merasakan jenuh atas ketidakjelasan hati dan diriku sendiri aku juga sempat memutuskan untuk mencoba membuka hati kepada yang baru. Namun rasa takut kehilangan itu juga lebih besar. Aku kalah atas hatiku sendiri.

Aku tahu jika memang sudah kehendak Allah pasti memang sudah yang terbaik. Bersatunya dua pasang cucu adam dan hawa tidak hanya bersatunya 2 orang individu melainkan 2 keluarga besar yang di dalamnya terdiri berbagai karakter individu dengan berbagai perbedaan pandangan. Kebiasaan dalam keluarga bisa membawa penilain lain terhadap orang baru yang dekat. Ketakutan inilah yang sempat menghantuiku. Dengan ketidakindahanku sebagai seorang wanita bisa jadi penolakan itu datang padaku. Nasihat dari orang sekitar sempat membuatku benar-benar ingin mundur.

Ya, aku memang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Jika saat tibanya aku harus melupakan segalanya adalah saat ini, aku hanya bisa berusaha. Aku harus ikhlas terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi. Aku rasa kamupun juga sudah ikhlas boy. Ketika masing-masing individu saling melepas namun hati masih terikat…. Bisa jadi ini adalah yang terbaik dari-Nya, meski aku belum menemukan yang lebih baik darimu. Aku terus belajar. Belajar darimu tentang keikhlasan. Meski sampai saat ini aku belum bisa, namun aku akan terus belajar. Belajar mengikhlaskan. Untuk kebaikanmu dan hidupmu. Semoga wanita indah terbaik nanti adalah yang terakhir dan mengubah hidupmu lebih baik lagi.
(NN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: